Ekspedisi Belanda Ke Pedalaman Palembang

Ekspedisi Belanda Ke Pedalaman Palembang 1812-1889 (1)


Sketsa ekspedisi pedalaman Palembang (Goenoeng Maraksa) yang dilakukan pasukan Belanda.
Ekspedisi Belanda Ke Pedalaman Palembang 1812-1889 (1) 1
Dudi Oskandar.
Oleh Dudi Oskandar
Jurnalis dan Pemerhati Sejarah

“LAPORAN Ekspedisi Belanda ke Palembang (Gunung Merakso) 1812-1889, ditujukan Menke de Groot kepada Ratu Belanda.
Dalam laporan tersebut dituliskan, ada dua perang hebat yang banyak menghabiskan tentara dan logistik Belanda yaitu perang dalam menumpas Sultan Palembang dan perang dalam menumpas Radja Tiang Alam Gunung Meraksa,”
Menke de Groot menuliskan kisah mengenai ekspedisi ke Palembangs Bovenlanden (Pedalaman Palembang/Goenoeng Merakso ) merupakan ekspedisi hukuman dari Tentara Kerajaan Hindia Belanda ke Palembang di Sumatra (1851-1859) untuk menghilangkan gangguan di pedalaman Palembang, bahkan setelah ekspedisi ke Palembang antara tahun 1819 dan 1921 masih selalu ada ketegangan di pedalaman Palembang.
Sayang perlawanan perdalaman Palembang tersebut akhirnya berakhir di tahun 1856, Gunung Meraksa (kini menjadi wilayah kabupaten Empat Lawang, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) berhasil ditaklukkan Belanda, Radja Tiang Alam ditangkap. dibawa ke Palembang lalu di adili di Batavia, dan Tahun 1858 Radja Tiang Alam diasingkan ke Salatiga, Jawa Tengah.
Setelah menaklukan Kesultanan Palembang pada Tahun 1821, Belanda mengirim ekspedisi-ekspedisi tentaranya ke pedalaman, dalam rangka menanamkan dan memperluas kekuasaan setelah Sultan Palembang menyerah.
Setelah dapat memadamkan perlawanan-perlawanan di daerah Lematang, dan setelah bermingu-minggu lamanya serta menderita korban yang besar dapat menguasai benteng di dusun-dusun, ekspedisi Belanda bergerak ke daerah Kikim.
Disinipun belanda mendapat hambatan perlawanan yang kuat, akhirnya setelah daerah Kikim dapat mereka amankan, dan setelah dapat tambahan tenaga-tenaga baru dari Palembang, Belanda dapat maju dan mendirikan benteng di Tebing Tinggi.
Tebing Tinggi pada waktu itu adalah kota kecil yang sangat strategis sekali bagi Belanda. Dari Tebing Tinggi dapat bergerak kearah Lubuk Linggau, Rawas, juga ke daerah Lintang Empat Lawang untuk seterusnya dapat menuju Tanah Pasemah. Kalau di daerah-daerah lain belanda mendirikan kampemen-kampemen (benteng-benteng) dari kayu-kayu, tapi di Tebing Tinggi kampemen mereka, berupa bangunan-bangunan yang permanen dengan dikelilingi parit-parit yang dalam.
Dengan berpusat di Tebing Tinggi inilah Belanda hendak menaklukan Empat Lawang. Kekuatan penentang Belanda ini berpusat di Gunung Meraksa. Dusun Gunung Meraksa yang diapit oleh sungai Lintang Kiri dan sungai Lintang Kanan berada di ketinggian yang dikelilingi oleh tebing-tebing terjal. Dibelakang tebing-tebing ini terdapat pula hutan aur duri (bambu berduri) yang tumbuh berlapis-lapis. Hanya penduduk dusun saja yang tahu dan dapat melalui jalan setapak yang berliku-liku untuk bisa keluar dari dusun untuk berpergian ke tempat lain.
Maka tidak heran dalam ekspedisi pertama Belanda pada tahun 1845, Belanda gagal merebut benteng Gunung Meraksa. Mereka terpaksa kembali ke Tebing Tinggi dengan menderita korban yang besar.
Malahan sewaktu mereka mudur melalui jalan dipinggir Sungai Musi masih juga ditempat-tempat tertentu mendapat serangan-serangan.
Pada bulan Juli tahun 1851 Belanda melancarkan kembali serangan yang kedua, dilakukan dengan kekuatan yang lebih besar dipimpin Letnan Kolonel de Brauw.
Letnan Kolonel de Brauw ini terkenal sebagai penakluk daerah Banten, yang menurut Belanda sebagai pahlawan Djagaraga dan sengaja didatangkan ke Palembang, untuk menundukkan daerah Lintang 4 Lawang.
Tentara Belanda yang berpengalaman dalam perang Jati ditarik dari Lahat dan digabung dengan tentara yang sudah di Tebing Tinggi.
Belanda berpendapat, karena Benteng Jati ada persamaan dengan Benteng Gunung Meraksa, yaitu diperkuat dengan parit-parit perlindungan serta dikelilingi dengan aur duri berlapis-lapis yang sukar ditembus.
Pengalaman Belanda dalam perang Jati, ialah menggunakan meriam-meriam dengan peluru-peluru api yang dapat membakar kampung-kampung. Meriam-meriam inilah dengan prajurit-prajurit yang berpengalaman dikumpulkan dalam persiapan menaklukan daerah Empat Lawang dengan Gunung Meraksa sebagai pusatnya.
Mereka bergerak dengan kekuatan lima perwira, 260 prajurit invanteri 4 buah mortir, 8 meriam dibantu satu armada lima ratus orang kuli paksa orang Indonesia sebagai pembawa barang-barang. Berangkat dari Tebing Tinggi dengan menyusuri pinggir sungai ke hulu Musi rombongan tentara Belanda menuju ke dusun Ulak Mengkudu sejauh 16 km dari Tebing Tinggi .
Mereka berhenti di Desa ini untuk membuat jembatan dari bambu guna dapat menyeberangan tentara dengan alat-alatnya yang begitu banyak. Selain persenjataan berupa meriam-meriam, pelor-pelor, juga beras-beras dan sebagainya, perlengkapan memasak dan lain-lain pun banyak sekali.
Perhitungan mereka ekspedisi ini akan memakan waktu kira –kira selama tiga bulan. Pantas saja barang-barang yang dibawa begitu banyak. Memang tersedia bambu-bambu banyak sekali di daerah itu, sehingga dalam tiga hari saja penyeberangan dapat mereka lakukan dengan berhasil baik .
Dengan menempuh perjalanan yang berat berupa medan yang berbukit-bukit yang tinggi, tebing-tebing yang terjal serta lembah yang dalam-dalam dan hutan yang lebat, selama empat hari, tentara Belanda ini dapat tiba di tujuan.
Pada ekspedisi mereka yang pertama kali dahulu Belanda menyerang Gunung Meraksa secara frontal dan tidak menghasilkan apa-apa, malahan menderita kekalahan. Mereka mengerahkan kuli-kuli mencoba menembus pertahanan aur duri dengan memotong batang-batang bambu yang sangat keras dan sangat padat dengan parang-parang.
Di belakang kuli-kuli, tentara Belanda melindungi mereka. Mula-mula ada kemajuan dengan dapat memotong dan merobohkan rumpun demi rumpun bambu, tapi pekerjaan ini sia-sia belaka.
Pisau atau parang yang dipakai cepat sekali menjadi tumpul, penyerangan menjadi lamban dan pejuang-pejuang yang tak terlihat dari benteng dapat lelasa menembaki tentara Belanda yang mengawal, dan menimbulkan korban di pihak Belanda.
Akhirnya setelah berusaha selama beberapa hari dengan cara usaha ini dihentikan. Selama dua minggu mereka berusaha menaklukan benteng, dan tidak memberikan hasil. Pada hari ke-enam belas mereka meninggalkan medan pertempuran dan kembali ke Tebing Tinggi.
Dengan pengalaman penyerangan pertama yang gagal, mereka lalu memakai strategi yang telah memberikan hasil seperti di perang Jati. Belanda mengepung benteng Gunung Meraksa dengan rapat sehingga tidak ada yang dapat masuk atau keluar.
Pengepungan ini dapat mereka lakukan karena jumlah anggota tentara yang cukup banyak. Sementara pengepungan, meriam-meriam mereka terus menembaki dusun dengan peluru-peluru api. Memang terjadi kebakaran- kebakaran, tapi tetap benteng tidak menyerah. Kuli-kuli yang tidak bertugas, mereka kerahkan untuk terus memotong bambu-bambu pertahanan. Rencana Belanda adalah hendak memaksa benteng menyerah karena kekurangan makan dan air. (bersambung)
Sumber:
1. Nederlandsekrijgsmacht.nl
2. Kuris.wordpress.com
3. 1900. W.A. Terwogt. Het land van Jan Pieterszoon Coen. Geschiedenis van de Nederlanders in oost-Indië. P. Geerts. Hoorn
4. 1900. G. Kepper. Wapenfeiten van het Nederlands Indische Leger; 1816-1900. M.M. Cuvee, Den Haag.
5. 1876. A.J.A. Gerlach. Nederlandse heldenfeiten in Oost Indë. Drie delen. Gebroeders Belinfante, Den Haag.

Komentar